usaha mendekatkan jurnalisme kepada masyarakat

Minggu, 01 Juni 2014

Imam Hanya Keluarkan Uang Rp 10 Juta

Profesi tak menghalangi niat seorang untuk maju dalam dunia politik. Bahkan, seorang penjual bakso yang berada di Kota Magelang terpilih duduk di kursi wakil rakyat pada Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 9 April 2014.

Senyum hangat tersungging di bibir Imam Musaechoni, saat Tribun Jogja mendatangi rumah kontrakannya yang sederhana di Jalan Sunan Ampel, Kampung Ganten, Kelurahan Jurang Ombo Selatan, Kota Magelang, Sabtu (17/5). Tak ada yang menyangka pria berusia 43 tahun ini adalah calon anggota DPRD Kota Magelang periode 2014-2019.
Dengan tutur kata sederhana, pria yang akrab dipanggil Imam ini tidak terlalu berlarut dalam euphoria kemenangannya meraih kursi wakil rakyat. Dia hanya mengucap rasa syukur atas dukungan sejumlah orang dan kuasa Tuhan.
“Awalnya, saya tidak menyangka bisa menduduki kursi ini. Saya tidak ambisius untuk mendapat suara banyak. Begitu jadi wakil rakyat, saya merasa biasa-biasa saja,” ujar Imam.
Imam adalah anggota dewan terpilih dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Imam yang juga menjadi ketua dewan pimpinan cabang (DPC) PKS Magelang Tengah, Kota Magelang, sebenarnya sudah tida kali menjadi caleg, namun akhirnya baru tahun ini terpilih.
Pada Pemilu 2014 ini, dia menjadi caleg dengan nomor urut 2, namun pada Pemilu sebelumnya, dia biasa menduduki nomor urut bawah. Dia mengatakan, suara sebanyak 640 pada pileg lalu.
Imam yang telah menempati rumah kontrakan sederhana selama lima tahun terakhir menyebut keberhasilannya menduduki kursi DPRD merupakan hasil kerja keras partai dan Gerakan Silaturahmi (Gesit) dari sejumlah kader. Sementara, dia sendiri mengeluarkan uang pribadi berkisar Rp 10 juta hingga Rp 15 juta.
Imam mengaku optimistis bisa langsung melakukan perubahan meskipun dia merupakan caleg berwajah baru. Latar belakang Imam sebagai pelaku usaha di sektor menengah kecil mendorongnya untuk memikirkan nasib para pengusaha mikro nantinya.
Fokus ekonomi
   Dengan pengalamannya enam tahun menjalankan bisnis usaha warung bakso dan mie ayam ini, Imam mengaku sudah memutuskan untuk memfokuskan bidangnya pemberdayaan masyarakat di sektor ekonomi.
    “Saya mempunyai visi ingin memberdayakan pengusaha kecil. Saya juga siap menerima keluhan para pengusaha di sektor ekonomi mikro,” ujar ayah dari Sumayah (17), Muh Dabith S, Hana Am Imaailah, Muh Jundi S (6) ini.
    Menurut dia, selama ini pemerintah memang kerap memberikan pelatihan dan bantuan modal pada pengusaha kecil. Hanya saja, masalah pemasaran sama sekali tidak diperhatikan, sehingga para pelaku usaha kerap berhenti di tengah jalan.
            “Insha Allah, meskipun saya duduk sebagai dewan, tetap akan menjalankan usaha bakso ini,” kata tenaga honorer di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). (agung ismiyanto).

            Itulah profil Imam Musaechoni yang disiarkan Tribun Jogja, Senin, 10 Mei 2014. Dari profil ini, muncul beberapa kesan tentang Imam. Pertama, Imam merupakan manusia yang gigih. Dia tidak kapok menjadi calon legislatif (caleg). Pada kali ketiga menjadi caleg dia baru terpilih sebaga anggota DPRD Kota Magelang.

            Kedua, Imam bukan orang yang suka menghambur-hamburkan uang dalam rangka pemilihan legislatif (pileg). Dia menjadi anggota DPRD bukan dengan biaya tinggi. Dia hanya mengeluarkan uang pribadinya sebanyak 10-15 juta.

            Ketiga, Imam memiliki fokus yang jelas ketika mulai bekerja sebagai anggota DPRD Kota Magelang nanti. Dia tidak perlu lagi berpikir panjang untuk memilih fokus yang akan digelutinya. Dia ingin memberdayakan masyarakat kecil.

            Keempat, Imam masih akan terus berjualan bakso sekalipun sudah resmi menjadi anggota DPRD Kota Magelang. Dia tidak merasa rendah diri menjadi penjual bakso. Dia malah merasa nyaman menjadi penjual bakso merangkap anggota DPRD Kota Magelang.

            Tentu mengherankan sikap Imam di atas bila dibandingkan anggota-anngota DPRD yang lupa dengan profesi lamanya ketika dia terpilih sebagai anggota DPRD. Tentu mengejutkan juga Imam bisa terpilih menjadi anggota DPRD dengan biaya rendah. Tentu mendebarkan pula menunggu kiprah Imam di DPRD Kota Magelang.

Lepas dari semua itu, berita ini sudah menunjukkan sesuatu yang unik dari seorang anggota DPRD Kota Magelang. Penulisnya, Agung Ismiyanto, telah menyajikan keunikan itu kepada khalayak. Adalah wajar bila kemudian Agung memperoleh apresiasi.***


Rejodani, 31 Mei 2014   

0 komentar:

Posting Komentar

Ana Nadhya Abrar


Namaku Abrar. Konon, aku lahir di Bukittinggi pada 20 Februari 1959. Maka,
pada saat tulisan ini kubuat, aku sudah berumur 55 tahun lebih. Dalam
usia sekian, aku tidak bisa menjawab pertanyaanku sendiri. Apakah aku
sudah menjadi intelektual di bidang jurnalisme? Namun, aku teringat
indikator intelektualitas yang pernah disampaikan Ashadi Siregar
dalam majalah Balairung, No.3-4, 1987, hal. 10, yakni
memiliki: (i) kesadaran eksistensial tentang diri, (ii) kesadaran
eksistensial tentang profesi, dan (iii) orientasi kemasyarakatan.



Museum Orang Pinggiran

Museum ini menyimpan barang-barang yang pernah dipakai orang pinggiran, karya orang
pinggiran, koleksi orang pinggiran, kisah tentang orang pinggiran, dan ide-ide
orang pinggiran. Melalui museum ini saya ingin mengapresiasi orang-orang
pinggiran dan orang-orang yang terpinggirkan
Diberdayakan oleh Blogger.